Ketua bank sampah induk Rumah Harum Hermasyah (kedua dari kiri). (Foto : Agus/Diskominfo)
Kelurahan Kalibaru mengapresiasi aktivitas pemilahan sampah yang dilakukan Bank Sampah Induk Rumah Harum (Harapan Umat) di RT 04/RW 05. Bank sampah yang sudah berjalan selama 4 tahun itu, dinilai positif dalam mengawal program zero waste city Pemkot Depok, karena efeknya yang mampu mengurangi sampah sebanyak 5-10 persen.
Lurah Kalibaru, Siti Hasanah mengatakan, apresiasi diberikan pihaknya, karena kegiatan Bank Sampah Induk Rumah Harum dapat mengurangi volume sampah di lingkungan. Totalitas bank sampah ini, juga mendapat perhatian pemerintah dengan memberikan bantuan berupa 1 unit gerobak motor pada tahun 2016. Gerobak motor ini bisa dipakai untuk mendukung operasional kegiatan bank sampah, yang saat ini makin banyak direspons warga.
“Setidaknya keberadaan bank sampah dapat mengurangi volume sampah warga hingga 5-10 persen. Kegiatan ini juga dapat memberdayakan warga Kalibaru untuk sadar memilah sampah,” ujarnya Kamis (16/03/17).
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Induk Rumah Harum, Hermansyah mengatakan, ada 250 titik bank sampah kecil dari 6 kecamatan di Kota Depok yang menjadi anggota Bank Sampah Induk Rumah Harum. Disebutkannya, 6 kecamatan tersebut adalah Tapos, Cimanggis, Cipayung, Cilodong, Pancoranmas, serta Sukmajaya.
“Setiap titik memiliki anggota atau nasabah antara 150-350 Kepala Keluarga (KK). Kita juga terkadang melakukan pendampingan di beberapa bank sampah kecil tersebut,” kata Hermansyah.
Dikatakan Hermansyah, pengambilan sampah nonorganik dilakukan setiap hari kecuali hari Jumat. Pihaknya saat ini juga sudah membuat jadwal pengambilan ke 250 titik bank sampah kecil yang ada di 6 kecamatan tersebut.
“Masih ada beberapa nasabah bank sampah kesulitan dalam memilah jenis sampah anorganik. Karena itu, saya juga sering terjun langsung untuk memberikan penyuluhan kepada nasabah mengenai sampah apa saja yang memiliki nilai ekonomis,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sampah nonorganik yang sudah terkumpul di bank sampah induk langsung diproses melalui pengepresan kemudian dijual. Untuk berbahan dasar plastik, dilakukan proses penggilingan atau dihancurkan, kemudian setelah tercacah, baru dijual kembali.
“Ada juga sampah nonorganik yang tidak kita proses, melainkan kita buat kerajinan seperti pot untuk tanaman atau pun hiasan-hiasan rumah. Bahkan, terkadang ada buku cerita atau pelajaran yang dibuang warga kita jadikan koleksi buat perpustakaan kami,” jelasnya.

Penulis : Agus
Editor: Dunih dan Yulia Shoim

#Sahabatcimanggis
#Kimcimanggis