pengolahan sampah Depok. Bila sampah non organik dapat diolah dengan
cara daur ulang. Maka, keberadaan sampah organik dapat diatasi dengan
maggot.
“Maggot adalah larvanya lalat hitam. Maggot sendiri dapat memakan
sampah organik yang dapat membantu mengurai bahan-bahan organik tentunya
dimanfaatkan untuk mengurai sampah,” jelas Ketua Forum Komunitas Hijau
(FKH) Depok, Heri Syaefudin kepada depok.go.id, belum lama ini.
Lebih lanjut, dia menuturkan, maggot memiliki nilai potensi ekonomis,
karena mengandung protein yang sangat tinggi. Protein yang dimiliki
maggot lebih tinggi dibandingkan kroto anak semut.
“Budidaya maggot disamping menyelesaikan aspek-aspek lingkungan juga
ada aspek ekonominya. Bahkan, dapat digunakan juga sebagai pakan ternak
ayam, ikan, dan bisa dikonsumsi manusia juga,” terangnya.
Harga dari bibit maggot berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu per
kilonya. Untuk membudidaya maggot tentunya memerlukan teknik khusus agar
dapat mengkonsumsi sampah organik.
“Diberikan wadah, lalu sampahnya organik tetapi harus kering, tidak
boleh basah. Tempatnya juga tidak boleh tertutup rapat kalau tempatnya
lembab maggot akan pergi. Sampah-sampah yang basah ditiriskan terlebih
dahulu. Jika sampahnya terlalu keras harus dicacah lebih dahulu,”
paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK)
Kota Depok, Etty Suryahati mengungkapkan, dengan adanya maggot bisa
meningkatkan nilai tambah bagi sampah organik. Maka itu, diharapkan
setiap rumah maupun bank sampah yang selama ini hanya mengelola sampah
non organik, dapat memanfaatkan maggot untuk mengolah sampah organik.
“Sampah yang dikonsumsi oleh maggot jadi mempunyai nilai, karena
maggot sendiri bisa dijual. Maggot juga berguna untuk pakan ikan dan
hewan ternak lainnya. Sehingga antara sampah non organik maupun organik
memiliki nilai,” ungkapnya.
Dikatakannya, kedepannya, diharapkan tidak hanya bank sampah yang
dapat menggunakan maggot untuk mengatasi sampah. Melainkan seluruh warga
Depok dapat menggunakan maggot untuk mengatasi sampah organik.
“Maggot bisa jadi alternatif untuk mengatasi sampah organik. Selain
Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang berskala besar. Kalau baru berskala
kecil seperti masyarakat juga bisa mengelola sendiri. Maka dari itu
titik awal yang kita perlukan adalah terjadi pemilahan sampah di
masyarakat dengan dimulai dari sampah rumah tangga,” terangnya.
Dengan budidaya maggot, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK)
akan bekerjasama dengan Balitbang Ikan Hias. “Jadi dia (Balitbang Ikan
Hias) memberikan telur lalat hutan kepada warga yang mau melakukan atau
menguji coba. Karena memang ini baru tahapan uji coba untuk bank sampah
atau kader-kader lingkungan,” tutupnya.
Penulis: Nurul Daroja
Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita
#sahabatcimanggis
#kimcimanggis







