depok– Pertengkaran yang terjadi dalam rumah tangga acap kali berujung pada perceraian. Belum lagi kehadiran media sosial (medsos) kerap ikut memperuncing permasalahan rumah tangga. Vitalnya peran medsos tersebut, membuat Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna meminta warganya untuk lebih arif dalam memfilter setiap informasi yang beredar di medsos.
“Pada era digital saat ini, fenomena media sosial menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya perceraian. Untuk itu ada baiknya harus ada filter dari diri sendiri untuk kebaikan. Apalagi saat ini sudah pada era digital yang apa-apa serba canggih,” ujar Pradi usai kegiatan Upacara Hari Amal Bakti (HAB) Kemenag di Lapangan Balaikota, Selasa (03/01/16).
Dia juga mengatakan, tayangan infotaiment turut berpengaruh terhadap tingginya angka perceraian. Untuk itu dia berpesan agar setiap masyarakat yang telah menjalani biduk rumah tangga hendaknya mampu mengambil hal positif dari tayangan televisi dan membuang hal yang buruk.
Infotaiment juga berpengaruh, hal yang baik dicontoh dan hal yang kurang baik jangan ditiru. Jadi filternya itu ya ada di diri kita sendiri,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Depok Chalik Mawardi mengakui, adanya peningkatan angka perceraian dari tahun ke tahun. Selain faktor teknologi, menurutnya faktor ekonomi dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga menjadi pemicu.
“Menurut data yang kita himpun dari pengadilan agama, tahun 2016 kemarin ada sekitar 3700-an masyarakat yang mengajukan cerai. Padahal tahun 2015 masih 2900, data ini meningkat tajam dan menyita perhatian. Untuk itu, kami akan lakukan beberapa upaya untuk mencegah terjadinya perceraian,” tuturnya.
Dikatakannya, salah satu hal yang akan dilakukan Kemenag adalah memberikan pembinaan terhadap calon-calon pengantin. Pembinaan ini penting untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Juga mengurangi angka perselisihan, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga.
Peserta, lanjutnya, akan dibekali pengetahuan mengenai fiqih atau hukum pernikahan, konsekuensi membangun rumah tangga dan lainnya. Selain itu, kata Chalik, masing-masing pasangan calon pengantin juga diberikan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
“Pembinaan ini juga sebagai bekal pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan kepada calon pengantin tentang kehidupan rumah tangga,” tutupnya.
sahabatcimanggis
KIMCimanggis