Walikota Depok Muhammad Idris saat memberikan arahan pada acara ketok pintu pilah sampah.
Advertorial – Pemerintah Kota Depok melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) serta Dinas Kebersihan dan Petamanan (DKP) terus berupaya untuk menangani persoalan sampah dan menjadikan Depok sebagai kota yang bersih dan hijau demi mewujudkan Kota Depok yang nyaman unggul dan relegius.

Upaya gencar Pemkot Depok untuk menangani sampah tersebut, karena berdasarkan data, Kota Depok memproduksi 1.200 ton sampah per hari. Bahkan junlah tersebut diprediksi bakal terus meningkat, sejalan dengan jumlah penduduk yang bertambah, saat ini mencapai lebih dari 2 juta jiwa.

Salah satu upaya membebaskan Kota Depok dari persoalan sampah dengan gerakan memilah sampah. Untuk mengajak warga agar peduli dan mau memilah sampah Pemkot Depok menggelar aksi ketok pintu pilah sampah.Sedangkan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung sudah tidak mampu menampung lebih banyak lagi. Hampir seluruh lahan yang ada di TPA Cipayung yakni 9 hektar (dari 11 hektar yang ada) sudah hampir penuh oleh tumpukan sampah.

Aksi tersebut berlangsung di Lapangan Depok Jaya, Jumat (4/11/2016) dan langsung di pimpin oleh Walikota Depok Mohmmad Idris didampingi Wakil Walikota Pradi Supriatna dan para pejabat terkait.

Dalam sambutannya, Walikota Depok, Mohammad Idris mengajak masyarakat luas untuk ikut mewujudkan Kota Depok yang bersih dan hijau bebas dari persoalan sampah melalui gerakan memilah sampah dan mendirikan bank-bank sampah.

“Keberadaan bank sampah yang terdata sudah lebih dari 500 di Kota Depok, namun ini masih kurang signifikan dalam membantu mengurangi pendistribusian sampah ke TPA Cipayung. Oleh sebab itu saya berharap masyarakat terus secara aktif terlibat untuk ikut mengatasi persoalan sampah melalui memilah sampah dan mendirikan bank-bank sampah, mari kita ajak tetangga dan kerabat kita untuk ikut memilah sampah, kita silaturahim, kita ketok pintunya” kata Idris.
Aksi Ketuk Pintu itu tidak hanya menyangkut persoalan sampah, tapi juga bidang lain seperti penghijauan. Ada lima aksi yang dilakukan melalui program ketok pintu yaitu:
  1. Menjaga Kebersihan.
  2. Tanam dan Pelihara Pohon.
  3. Pilah 5 jenis sampah yakni organik basah, organik kering, anorganik, residu dan B3.
  4. Dukung kantong plastik tidak gratis dan
  5. Hindari penggunaan styrofoam untuk wadah atau kemasan makanan atau minuman.
Menurut walikota, jika program Aksi Ketuk Pintu dengan lima tujuan itu bisa terlaksana dengan baik, suatu saat Depok akan menjadi kota yang bersih. “Kalau menjadi kota bebas sampah sama sekali, tidak mungkin,” kata walikota.

Walikota Depok juga menceritakan hasil kunjungan studi banding ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang sudah 18 kali meraih predikat sebagai kota terbersih, sehingga meraih Adipura

“Kota Balikpapan sudah 18 kali meraih predikat sebagai kota bersih, kita perlu mencontohnya,” kata Idris.

Kenapa Kota Balikpapan bisa meraih Adipura sebanyak 18 kali? Itu karena banyak faktor pendukung. Lahan yang disediakan untuk TPA nya mencapai 45 hektar. ”Sehingga Kota Balik Papan belum pusing memikirkan di mana mau membuang sampah, karena TPA nya 45 hektar. Sedangkan Kota Depok dengan 2 juta jiwa hanya punya 9 hektar,” kata Idris.

Idris menambahkan, Kota Balikpapan mempunyai 14 hektar taman kota dan 50 hektar hutan lindung. ”Faktor-faktor seperti itu juga sangat berpengaruh terhadap penilaian Adipura,” kata Idris.

Namun demikian, Kota Balikpapan, belum memiliki bank sampah. Suatu ketika lahan TPA sudah terbatas, Kota Balikpapan juga akan membutuhkan bank sampah. ”Makanya, mereka ingin belajar soal bank sampah dengan Kota Depok,” tegas Idris.

Idris mengatakan, Kota Depok menyimpan mimpi yang besar untuk bisa menjadi Kota Bersih, sehingga bisa meraih Adipura. Berbagai cara kini tengah dilakukan, termasuk dengan aksi Ketuk Pintu.

Namun, masyarakat Kota Depok belum terbiasa memilah sampah, sehingga sosialisasi dinilai perlu dan tidak boleh berhenti sampai aksi memilah sampah itu menjadi sebuah kebiasaan.

Sedangkan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemerintah Kota Depok, Etty Suryahati mengungkap, bahwa 62 persen sampah yang ada di Kota Depok masih bisa terangkut ke TPA. Sedangkan sisanya, masih ada di beberapa lokasi tempat pembuangan sampah (TPS)

“Berdasarkan data yang dimiliki DKP, limbah rumah tangga masih menjadi penyumbang sampah yang paling banyak. Kemudian baru sampah dari pasar, sehingga DKP bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) membuat gerakan yang disebut dengan “Aksi Ketuk Pintu untuk memilah sampah,” kata Etty.

Kenapa ketuk pintu? Lanjut Etty, kita ingin melibatkan masyarakat secara langsung membantu menyelesaikan persoalan sampah,”

Hal senada dikatakan Kepala BLH Kota Depok, Kania Parwati. Yang mengatakan persoalan sampah tidak hanya diserahkan kepada pemerintah semata, semua pihak harus terlibat dalam mengatasi persoalan ini, termasuk masyarakat.

“Kami berharap seluruh pihak melibatkan diri dalam gerakan ini , maka Walikota Depok Bapak Mohammad Idris sengaja melaunching “Aksi Ketuk Pintu” ini dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, lurah, camat sampai kepala dinas,” katanya

Menurut Kania, tidak mungkin persoalan sampah ini hanya diserahkan kepada pemerintah Kota Depok.

“Mari sama-sama kita atasi, mulai dari lingkungan terkecil. rumah tangga kita masing-masing, toko atau kantor kita masing-masing. Sediakanlah tempat sampah organik dan non organik di lingkungan terkecil kita masing-masing,” kata Kania.

Kania Parwati meyakini program Aksi Ketuk Pintu itu bisa berjalan baik dengan turun langsung ke lapangan, termasuk ke kecamatan dan kelurahan-kelurahan.

Pengusaha Memberikan Pohon Secara Simbolis Kepada Walikota Depok.
“Tim kami dari BLH sudah melakukan program ini sejak beberapa pekan lalu. Kami datangi rumah satu per satu untuk menjelaskan program ini. Hal yang mustahil kalau kemudian program ini jika dilakukan oleh BLH sendiri. Bayangkan berapa ratus ribu rumah dan toko yang ada di Kota Depok. Tentu hal ini membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa mengetuk pintu rumah satu per satu. “Ya, tidak mungkinlah. Maka kami melibatkan RT dan RW,” kata Kania. 

Pengusaha Memberikan Pohon Secara Simbolis Kepada Walikota Depok.

Sebagai bukti keterlibatan masyarakat dan dunia usaha, sejumlah pengusaha di Kota Depok kemudian menyumbangkan tempat sampah dan pohon kepada Pemerintah Kota. Walikota menerima sumbangan tersbut secara simbolis kemudian walikota menyerahkan ke dinas terkait.

Komunitas Hijau sebagai salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang peduli akan lingkungan, terlibat langsung dalam program ini, sebagai salah satu ujung tombak gerakan bersih-bersih Kota Depok.

Untuk mendukung gerakan itu, Walikota Depok telah menerbitkan Peraturan Walikota (Perwal) nomor 58 Tahun 2016 berisi tentang pengurangan sampah melalui pengurangan penggunaan kantong belanja plastik dan wadah atau kemasan makanan dan minuman tertanggal 24 Oktober 2016.

Penerbitan Perwal itu sesuai amanah undang-undang nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah dan surat edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor SE.6/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang pengurangan sampah plastik melalui penerapan kantong belanja plastik sekali pakai tidak gratis. tanggal 31 Mei 2016, serta surat edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor SE.12/PSLB3/PS/PLB.0/3/2016 tentang langkah-langkah pengurangan sampah sisa makanan dan wadah atau kemasan makanan dan minuman.

Walikota Tengah Memberikan Pohon Kepada Kepala BLH
Guna memastikan upaya ini bisa berjalan baik, usai meluncurkan program Aksi Ketuk Pintu, walikota bersama wakil walikota Depok Pradi Supriatna meninjau langsung salah satu minimarket yang ada di Jalan Nusantara, yang terletak tidak jauh dari lokasi acara.Walikota Mendatangi Sebuah Minimarket yang Berada Dekat Dari Lokasi Acara Di Jalan Nusantara. Istimewa. 

Ketuk Minimarket
Selain 1 TPA, Depok juga punya 36 UPS. Sedangkan jumlah kelurahan ada 63. Artinya, dua kelurahan punya 1 UPS. Jumlah ini memang belum ideal, apalagi sampah itu harus diangkut ke UPS-UPS.

Melalui Aksi Ketuk Pintu, walikota berharap sampah yang masuk ke UPS dan TPA dapat diminimalisir. Terlebih ada sampah-sampah yang bisa didaur ulang, bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Botol-botol plastik dan sebaganya bisa diserahkan ke bank sampah, untuk kemudian masuk ke pabrik.

Tinggal bagaimana Aksi Ketuk Pintu ini menjadi sebuah kesadaran bersama, bukan hanya oleh pemerintah, apalagi hanya oleh BLH dan DKP, tapi oleh semua dinas, sampai ke camat dan lurah bisa menjadi motor penggerak, sehingga menjadi gerakan yang masif.

Apabila program ini berhasil, Depok akan menjadi kota yang bersih dan sehat yang pada akhirnya dinikmati oleh masyarakat banyak.