Guna meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Sekaligus menindaklanjuti imbauan Wali Kota Depok, Mohammad Idris dalam meningkatkan kewaspadaan akan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Maka Pokja (Kelompok Kerja) Kelurahan Sehat Tugu mengadakan pelatihan supervisor Jumantik (Juru Pemantau Jentik) dengan tema Satu Rumah Satu Jumantik.
Anggota Pokja Kelurahan Sehat sekaligus pembicara dalam pelatihan supervisor Jumantik, Sudjiono, mengatakan, pelatihan tersebut dilakukan sebagai usaha preventif peningkatan kasus DBD di Kelurahan Tugu.
“Kegiatan pelatihan ini pertama kali dilakukan di Kelurahan Tugu. Diharapkan bisa dilakukan kegiatan serupa di kelurahan lainnya. Dengan tema pelatihan Satu Rumah Satu Jumantik ini juga merupakan program dari Kementerian Kesehatan,” ujarnya kepada depok.go.id, Sabtu (11/03/2017) di Aula Kantor Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis.
Dalam pelatihan Jumantik tersebut, pihaknya ingin mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang sehat, khususnya mencegah perkembang biakan jentik nyamuk. Karena itu, peserta yang mengikuti pelantikan terdiri dari dua orang perwakilan setiap Rukun Warga (RW) di Kelurahan Tugu.
“Nantinya perwakilan dari tiap RW ini yang meneruskan sosialisasi dan pelatihan ke warga di lingkungan mereka. Tujuan akhirnya adalah tiap satu rumah harus memiliki satu Jumantik,” jelasnya.
Sementara itu, Lurah Tugu, Syaiful Hidayat, mengapresiasi Pokja Kelurahan Sehat Tugu yang telah berinisiatif untuk mengadakan kegiatan tersebut. Dikatakannya, dengan keberadaan Jumantik di setiap rumah, diharapkan tidak ada lagi kasus DBD di Kelurahan Tugu.
“Kalau hanya membasmi nyamuk dewasa saja, jentiknya akan berkembang biak. Maka yang paling penting adalah mencegah perkembangan jentik nyamuk itu,” tuturnya.
Dia juga berharap agar masyarakat bisa bekerjasama dengan baik dalam upaya mewujudkan Satu Rumah Satu Jumantik. Sehingga Kelurahan Tugu nantinya bisa menjadi Kelurahan Bebas DBD.
“Di Kelurahan Tugu memang sudah ada RW yang melakukan kegiatan ini lebih dulu yaitu RW 04, dan hasilnya baik. Karena itu, diharapkan RW lain bisa melakukan hal yang sama,” tutupnya.

Penulis: Nur Afifah Putri
Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita