![]() |
| Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Depok, Hendrawati Setiani disela-sela kegiatan Pelatihan 1000 Hari Pertama Kehidupan, belum lama ini. (Foto: Guntur/ Diskominfo) |
Kepala Dinas Kesehatan kota Depok, Noerzamanti Lies Karmawati, mengatakan, berdasarkan data Dinas Kesehatan
(Dinkes) tahun 2016, menunjukkan angka kematian ibu (AKI) dan angka
kematian bayi (AKB) di kota Depok menurun pada tahun lalu. Bahkan, angka
tersebut cenderung rendah.
“Kasus kematian ibu saat melahirkan
sebesar 16 orang dari 41.023 ibu hamil, atau setara dengan 39/100.000
jiwa. Kemudian, angka kasus kematian bayi sebesar 91 jiwa dari 41.023
bayi, atau setara dengan 2/1.000 orang,” jelasnya kepada depok.go.id, Selasa, (14/02/2017).
Sebagai perbandingan, angka kematian ibu
di tahun 2014 sebesar 17/46.679 jiwa. Kemudian mengalami penurunan
kembali di tahun 2015 sebesar 14/40.186 jiwa. Sementara itu, untuk angka
kematian bayi di tahun 2014 sebesar 83/1.000 bayi. Kemudian di tahun
2015 sebesar 38/30.009 bayi. Menurutnya, peningkatan pelayanan kesehatan
masyarakat menjadi faktor utama menurunnya angka kematian ibu dan bayi,
termasuk pengoptimalan fungsi dari puskesmas.
“Saat ini, rata-rata puskesmas yang ada
di seluruh kota Depok minimal sudah memiliki tiga tenaga medis. Yang
terdiri dari dua dokter umum, dan satu dokter gigi,”ucapnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Bidan
Indonesia (IBI) Kota Depok, Hendrawati Setiani, mengapresiasi upaya
penurunan dan mendukung data dari Dinkes Kota Depok tersebut. Indrawati
menyatakan, sebagai bagian dari warga Depok, tentu menyambut baik hasil
tersebut.
“Data yang dimiliki oleh Dinkes itu valid, karena sudah melalui tahapan penilaian yang tepat dan akurat,”ujarnya.
Dia menuturkan, untuk dapat mengetahui
apakah tingkat kesehatan warga di sebuah kota sudah baik atau belum
sangatlah mudah. “Salah satu indikatornya adalah dengan melihat jumlah
angka kematian ibu dan bayi di kota tersebut,”katanya.
Dikatakannya, sebagai mitra dari
pemerintah, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) kota Depok, senantiasa
bersinergi dengan dinas kesehatan terkait. Salah satunya dengan
melakukan pengawasan serta pembinaan kepada ibu hamil. Mulai dari masa
kandungan, hingga bayi berusia 2 tahun.
“Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Depok,
menjadi fasilitator untuk pelatihan bidan yang ada di kota Depok.
Setelah diberi latihan, masing-masing bidan ditargetkan akan mengawasi
dan membina 33 ibu hamil, selama 1000 hari,”terangnya.
Ia mengungkapkan, cakupan gizi bayi juga
harus terpenuhi dengan baik. Menurutnya, usia bayi dari 0 hingga 2
tahun merupakan fase usia yang rentan terkena penyakit. “Untuk itu kami
punya program 1000 hari pertama kehidupan (HPK), agar bisa memantau
kecukupan gizi bayi yang ada di Depok,” jelasnya.
Menurunnya angka kematian ibu dan bayi
juga menjadi perhatian yang utama bagi IBI Depok. Untuk itu, dia
berharap agar semakin banyak masyarakat Depok yang datang ke posyandu,
untuk memeriksakan kehamilannya.
“Sejalan dengan tujuan Ikatan Bidan
Indonesia (IBI) Depok, kami ingin mendorong pemerintah untuk mewujudkan
kota Depok yang semakin sehat. Yaitu dengan menciptakan angka kematian
ibu dan bayi hingga mencapai angka nol,” tutupnya.
Penulis: Guntur Widyanto
Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita
#sahabatcimanggis
#kimcimanggis








